Bareksa Insight: Sambut Liburan Akhir Tahun, Amankan Cuan di Reksadana Ini

Hanum Kusuma Dewi • 25 Dec 2023

an image
Ilustrasi pasar saham dan investasi reksadana yang menyambut Libur Natal dan Tahun Baru. (Shutterstock)

Reksadana pendapatan tetap obligasi korporasi cenderung stabil saat indeks saham rawan koreksi

Bareksa.com - Menjelang liburan akhir tahun, Smart Investor dapat memilih reksadana berbasis obligasi korporasi yang minim fluktuasi, di tengah pasar saham yang rawan koreksi. 

Tim Analis Bareksa merekomendasikan investor untuk berinvestasi pada reksadana obligasi korporasi seperti Capital Fixed Income Fund, STAR Stable Income Fund, Sucorinvest Stable Fund dan Trimegah Fixed Income Plan. Instrumen investasi tersebut dianggap cocok di masa liburan panjang seperti Natal dan Tahun Baru 2024 karena tidak adanya fluktuasi pada produk-produk tersebut.

Beli Capital Fixed Income Fund

Beli STAR Stable Income Fund

Tabel Reksadana Rekomendasi Bareksa

Nama Produk

Dana Kelolaan

Imbal Hasil

1 Januari - 21 Desember 2023

1 Tahun

Capital Fixed Income Fund

Rp525,63 Miliar

7,50%

7,65%

STAR Stable Income Fund

Rp3,21 Triliun

6,87%

7,09%

Sucorinvest Stable Fund

Rp4,67 Triliun

3,34%

3,48%

Trimegah Fixed Income Plan*

Rp4,17 Triliun

5,17%

5,33%

Sumber: Bareksa, data per 21 Desember 2023, Dana Kelolaan per November 2023, *total return (termasuk dividen)

Beli Sucorinvest Stable Fund

Beli Trimegah Fixed Income Plan

Kemudian, dalam jangka pendek ada risiko dari pasar saham karena Indeks Saham (IHSG) sudah menembus level psikologis 7.200 dan rawan terjadi koreksi. Analis Bareksa masih optimis penguatan IHSG akan terus berlanjut, setelah terjadi koreksi terlebih dahulu. 

Selain itu, obligasi negara pun ikut menguat seiring dengan yield obligasi AS yang turun ke level 3,89%. Sehingga, Tim Analis Bareksa lebih menyarankan untuk akumulasi reksadana saham ketika IHSG di level 7.000-7.100 dan reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi negara ketika yield acuan di 6,8-6,9%. 

Seiring dengan rencana pemangkasan suku bunga Dolar oleh Bank Sentral AS tahun depan, Analis Bareksa melihat Bank Indonesia (BI) bakal ikut melakukan pemangkasan suku bunga Rupiah pada akhir semester pertama. Namun, hal ini tidak serta merta akan menurunkan yield obligasi korporasi yang baru terbit, karena seusai Pemilu biasanya nilai emisi obligasi akan meningkat dan para emiten juga sudah mengantre untuk menggalang dana sehingga terjadi kompetisi untuk menarik dana investor. 

Dari segi risiko, sebagai negara penghasil komoditas, Indonesia tergantung dengan kinerja ekonomi negara mitra dagang terutama China. Naik turunnya ekonomi China sedikit banyak mempengaruhi naik turunnya harga komoditas terutama logam industri, CPO dan kertas. 

Menurut IMF, pertumbuhan China akan melambat menjadi 4,6% tahun depan akibat permasalahan sektor properti yang tak kunjung usai. Sementara itu, pemerintah China tidak akan tinggal diam karena menargetkan pertumbuhan 5%, sehingga investor berharap ada terobosan baru atau stimulus agar target tersebut bisa tercapai.

Dengan kondisi seperti saat ini Tim Analis Bareksa melihat reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi akan tetap mampu memberikan imbal hasil sebesar 6-6,5% untuk tahun depan. Asumsinya, BI hanya memangkas suku bunga acuan antara 0,75-1% di tahun 2024. 

Perlu diingat kembali, investasi mengandung risiko, sehingga investor perlu membekali diri dengan informasi soal potensi keuntungan dan risiko dari investasinya di pasar keuangan.

Beli Reksadana, Klik di Sini

(Ariyanto Dipo Sucahyo/Sigma Kinasih/Christian Halim/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di saham dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER​​​​​

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana