Setelah Grup MNC dan 7-Eleven, Hypermart Dikabarkan Mulai PHK Karyawan

Setelah Grup MNC dan 7-Eleven, Hypermart Dikabarkan Mulai PHK Karyawan

Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa Hypermart kalah bersaing dengan Alfamart dan Indomaret
Senin, 10 Juli 2017 15:29:20 WIB Muhammad Ikhsan, Abdul Malik
Image
Salah satu gerai Hypermart milik PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) di Depok (Sumber: Perusahaan)

Bareksa.com - Baru-baru ini mencuat isu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan besar. Kabar PHK yang berhembus kencang belakangan ialah PHK yang dilakukan MNC Group dan 7-Eleven. Hypermart juga dikabarkan mulai melakukan PHK karyawan. Namun kabar ini segera dibantah oleh manajemen PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA).

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, Roy Mande, seperti dikutip Sindonews, Jumat 7 Juli 2017, membenarkan bahwa Hypermat sudah melakukan PHK terhadap pekerjanya di seluruh Indonesia. Memang jumlahnya belum pasti, namun diperkirkakan mencapai ribuan.

Menanggapi isu tersebut, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa Hypermart kalah bersaing dengan Alfamart dan Indomaret.

Roy menganggap saat ini situasinya memang sulit, pemerintah bisa berkata apapun, namun tanpa adanya stimulus, industri ritel tidak akan ada perbaikan.

* * *

Berdasarkan hasil riset Bareksa, kinerja emiten ritel Hypermart milik taipan Grup Lippo Mochtar Riady, yang juga menjadi bagian dari PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) pada kuartal I 2017 memang kurang memuaskan. Mengacu pada laporan keuangan, dalam dua tahun terakhir, perusahaan yang mempunyai segmen eceran dan grosir ini mencatatkan kerugian yang membengkak dibanding 2016.

Grafik: Pertumbuhan Laba/Rugi Bersih MPPA (Rp Miliar)

Sumber : Laporan Keuangan, diolah Bareksa

Di sisi lain, penurunan laba bersih terjadi di tengah pendapatan yang cenderung sideways sehingga berdampak pada tergerusnya margin laba kotor perusahaan. Belum lagi, beban umum dan administrasi yang salah satunya berasal dari gaji karyawan, terus meningkat setiap tahunnya. Sehingga wajar apabila pada akhirnya manajemen memutuskan untuk mengurangi karyawan guna menekan biaya umum dan administrasi.

Grafik: Perbandingan Laba Kotor dan Beban Umum (Rp Miliar)

Sumber: Laporan Keuangan, diolah Bareksa

Dalam dua tahun terakhir, nilai beban umum perusahaan lebih besar dibanding dengan laba kotornya. Akibatnya MPPA mencatatkan kerugian usaha. Perlu ditekankan bahwa, kenaikan beban umum sebesar Rp 108 miliar menjadi Rp 584 miliar, di mana sebanyak Rp 90 miliar berasal dari penyisihan penurunan piutang yang dibebankan ke dalam laporan laba/rugi sehingga sangat membebani kinerja perusahaan.

MPPA Telah Melemah 56,3 Persen Sepanjang 2017

Semakin ambruknya performa kinerja perusahaan membuat para pelaku pasar perlahan-lahan mulai melakukan aksi jual terhadap saham ini. Hal tersebut terefleksikan dalam pergerakan harga saham MPPA yang dibuka pada harga Rp 1.475 pada Januari 2017 dan hingga 7 Juli 2017 harga saham MPPA ditutup di harga Rp 645 atau longsor 56,3 persen.

Grafik: Pergerakan Year to Date MPPA

Sumber: Bareksa.com

Ketika dikonfirmasi, Juru Bicara MPPA, Fernando Repi membantah kabar soal PHK besar-besaran yang terjadi di Hypermart seperti pemberitaan media. Sebab tahun ini perseroan justru menargetkan penambahan 9-10 gerai. Hingga kini penambahan gerai sudah terealisasi 2 gerai. "Lokasi penambahan gerai ada di Sulawesi, Kalimantan, dan kami juga sedang mempertimbangkan Sumatera," ujarnya kepada Bareksa, Rabu, 12 Juli 2017.

Fernando menyatakan tahun lalu perseroan juga merealisasi penambahan gerai sebanyak 8-9 gerai. Total hingga saat ini Hypermart telah memiliki 115 gerai. Selain Hypermart, MPPA juga mengoperasikan gerai SmartClub, Foodmart Primo, Foodmart Fresh, hingga Boston dan FMX. "Yang ada hanyalah konversi gerai dari Hypermart ke Foodmart misalnya. Ini lebih karena strategi bisnis. Dan karyawannya tidak diPHK namun tetap bekerja di gerai yang baru tersebut," ungkapnya.

Manajer Hubungan Investor dan Komunikasi MPPA, Phoa Marchea Trenggono, menambahkan berdasarkan data laporan tahunan 2016 dan per Juni 2017, jumlah karyawan hanya berbeda 1 orang. Dia menegaskan secara berkelanjutan, MPPA akan terus mengembangkan usaha dan bertumbuh sejalan dengan pertumbuhan prospek perekonomian dan ritel nasional yang positif.

"Industri ritel merupakan salah satu penopang ekonomi untuk Indonesia. Potensi ke depannya masih bagus, karena potensi market di Indonesia Timur masih besar dan banyak daerah di pelosok yang belum ada modern ritel," katanya kepada Bareksa.

Sebelumnya MDRN mengumumkan bahwa per 30 Juni 2017, seluruh gerai 7-Eleven di bawah manajemen PT Modern Sevel Indonesia yang merupakan salah satu entitas anak perseroan akan menghentikan kegiatan operasionalnya.

Chandra Wijaya, Direktur Perseroan dalam keterangannya Kamis, 22 Juni 2017 di Bursa Efek Indonesia menyebutkan bahwa penghentian kegiatan ini disebabkan oleh keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh perseroan untuk menunjang kegiatan operasional gerai 7-Eleven setelah rencana transaksi material perseroan untuk menjual bisnis waralaba ini batal dilakukan.

Hal-hal material yang berkaitan dan yang timbul sebagai akibat dari pemberhentian operasional gerai 7-Eleven ini menurut Chandra akan ditindaklanjuti sesuai dengan peraturan dan hukum yang berlaku dan akan diselesaikan secepatnya.

--

Catatan : artikel ini ada perubahan judul dan isi dengan tambahan konfirmasi dari manajemen MPPA.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN CHAT
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER