MARKET BRIEF: MEDC Rencanakan Stock Split 4:1; UNSP Masih Rugi Rp605 M

MARKET BRIEF: MEDC Rencanakan Stock Split 4:1; UNSP Masih Rugi Rp605 M

BEI prediksi penerbitan obligasi hingga akhir tahun tembus Rp130 triliun
Senin, 08 Mei 2017 08:01:08 WIB Adam Rizky Nugroho
Image
Salah satu kilang minyak Medco Energi Internasional Tbk (Company)

Bareksa.com - Berikut ini adalah intisari perkembangan penting di pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia.

PT Indomobil Multi Jasa Tbk (IMJS)

IMJS akan melakukan penambahan modal atau right issue dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu. Menurut pengumuman publik pada hari Minggu 7 Mei 2017, perusahaan akan menambah modal dengan menerbitkan 700 juta lembar saham baru. Nilai per lembar saham baru tersebut mencapai Rp500.

Pelaksanaan right issue menunggu persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 16 Juni. Setidaknya, menurut aturan yang berlaku, pelaksanaan penambahan modal dilakukan dalam rentang waktu tidak lebih dari 12 bulan sejak RUPST.

PT Avia Avian

Produsen cat Grup Tanobel yang dikenal dengan merek dagang Avian, berencana melakukan pelepasan saham perdana dengan target mengumpulkan dana di atas Rp2 triliun.

Komisaris PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) Hermanto Tanoko mengungkapkan rencana initial public offering (IPO) paling cepat dilakukan akhir tahun ini atau paling lambat tahun depan. Dia mengungkapkan rencana pelepasan saham Avian masih dalam proses.

Adapun Sariguna Primatirta merupakan grup Tanobel Food dan tercatat sebagai emiten ke-540 dan mencatatkan over subcribed sebesar 2,95 kali dari seluruh saham yang ditawarkan.

PT Darya Varia Laboratoria Tbk (DVLA)

DVLA mencatatkan pertumbuhan laba 47,72 persen pada kuartal pertama tahun ini. Berdasarkan laporan keuangan interim kuartal I 2017, laba bersih perusahaan yang bergerak di bidang farmasi itu mencapai Rp83,58 miliar, naik signifikan dibandingkan Rp56,58 miliar pada periode sama tahun lalu.

Di sisi lain, perusahaan berkode saham DVLA itu hanya mencatat pertumbuhan tipis dari sisi penjualan. Total penjualan DVLA mencapai Rp398,31 miliar, naik 5,01 persen dibandingkan Rp379,31 miliar pada kuartal I 2016. Perusahaan berhasil menekan beban pokok penjualan selama kuartal pertama tahun ini.

PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL)

Hingga akhir April tahun ini, TOTL mendapat kontrak baru senilai Rp813 miliar. Adapun target kontrak baru yang dibidik perseroan hingga akhir tahun 2017, mencapai Rp4 triliun.

Kebanyakan dari kontrak yang sudah didapat berupa pembangunan gedung perkantoran. Menurut Mahmilan Sugiyo, Sekretaris Perusahaan TOTL, pihaknya saat ini tengah mendata proyek-proyek yang bisa diikuti oleh Total. Sayang, ia tidak merinci identitas dari nama proyek tersebut.

Adapun nilai total proyek-proyek incaran itu bisa mencapai Rp12 triliun. "Tapi tidak dapat semua proyek, kami bisa menggarap antara 30 persen sampai 40 persen lah," timpal Mahmilan saat Rapat Umum Pemegang Saham, Jumat 4 Mei 2017.

PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA)

TBLA mencatatkan pendapatan usaha kuartal I 2017 sebesar Rp2,24 triliun. Capaian tersebut meningkat 117,78 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,03 triliun.  

Pendapatan TBLA kuartal pertama 2017 dikontribusi dari produk pabrikasi dan turunan pengelolaan hasil perkebunan kelapa sawit sebesar Rp1,58 triliun. Sedangkan produk pabrikasi dan sampingan dari pengelolaan gula memberikan kontribusi sebesar Rp657,45 miliar.

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)

MEDC berencana memecah nilai nominal saham alias stock split. Rasio stock split tersebut empat berbanding satu. Dengan kata lain, nominal saham MEDC yang sebelumnya Rp100 akan menjadi Rp25.

"Stock split ini merefleksikan kepercayaan MEDC terhadap nilai aset perusahaan di tahun ini," Hilmi Panigoro, Direktur Utama MEDC, Jumat 5 Mei 2017.

MEDC akan lebih dulu meminta persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 16 Juni 2017 mendatang.

PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP)

UNSP masih menanggung kerugian pada 2016 lalu. Penjualan bersih emiten perkebunan ini longsor 29,4 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya menjadi Rp1,5 triliun.

Meskipun UNSP membukukan keuntungan selisih kurs Rp221 miliar, namun beban keuangan yang tinggi membuat UNSP masih harus menanggung rugi bersih sebesar Rp605,12 miliar. Pada 2015, kerugian UNSP mencapai Rp1 triliun.

Penerbitan Obligasi

Bursa Efek Indonesia (BEI) memproyeksikan penerbitan obligasi hingga akhir tahun bisa menembus Rp130 triliun. Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat mengungkapkan, faktor pendorong penerbitan obligasi adalah suku bunga surat utang negara yang cukup stabil. Selain itu, kinerja emiten-emiten juga cukup baik, lanjutnya, sehingga ada kebutuhan untuk ekspansi.

"Ekspektasi investor cukup bagus untuk instrumen yang diterbitkan dan berpotensi terserap cukup bagus," kata Samsul, Jumat 5 Mei 2017.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN CHAT
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER