Auto Rejection Simetris Berlaku, Saham-Saham Ini Ditutup Anjlok Lebih Dari 10%

Auto Rejection Simetris Berlaku, Saham-Saham Ini Ditutup Anjlok Lebih Dari 10%

Saham RMBA berhasil keluar dari daftar setelah ditutup turun hanya 4,96%
Selasa, 03 Januari 2017 18:06:41 WIB Issa Almawadi

Bareksa.com – Sejak aturan auto rejection simetris diberlakukan, jumlah saham yang anjlok lebih dari 10 persen hari ini terus bertambah. Hari ini terdapat 11 saham yang perdagangannya mengalami penolakan otomatis oleh sistem karena turun mencapai batas persentase terbesar harian.

Batasan auto rejection yang baru menggunakan skema simetris, artinya batasan terbesar persentase peningkatan sama dengan persentase penurunan sesuai dengan fraksi harganya. Hal itu berbeda dengan yang sebelumnya berlaku, di mana penurunan saham emiten paling besar hanya 10 persen untuk fraksi harga manapun. Aturan baru ini memungkinkan pergerakan harga saham lebih fluktuatif, karena batas penurunan lebih besar dari yang sebelumnya berlaku.

Saham mana saja yang menjadi 'korban'? Berikut daftarnya:

Tabel: Daftar saham yang harganya turun lebih dari 10% pada 3 Januari 2017

Sumber: Bareksa.com

Daftar tersebut menambah jumlah saham yang menjadi korban auto rejection simetris pada sesi I perdagangan yang sudah diisi enam saham. Namun, saham PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) berhasil keluar dari daftar setelah akhirnya hanya ditutup turun 4,96 persen ke level Rp460 dari sebelumnya Rp484.

Di luar RMBA, saham PT Atlas Resources Tbk (ARII), PT Duta Putra Utama Makmur Tbk (DPUM), PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK), PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), PT Bank Yudha Bhakti Tbk (BBYB) masih menghiasi daftar korban. Bahkan di antara daftar ini, penurunan saham DPUM semakin dalam, dari sebelumnya turun 22,9 persen pada sesi I menjadi 24,58 persen pada akhir perdagangan.

Begitu juga saham SRAJ dan BBYB yang ditutup turun 15,57 persen dan 13,24 persen, lebih tajam dibandingkan penurunan pada sesi pertama masing-masing 14,75 persen dan 11,87 persen. Sementara itu, saham BTEK yang sudah turun 19,51 persen pada sesi I perdagangan, penurunannya menipis jadi 18,7 persen.

Selain itu, saham-saham lain yang mengisi daftar 'korban' auto rejection simetris antara lain PT Bank QNB Indonesia Tbk (BKSW) turun 21,88 persen, PT Voksel Electric Tbk (VOKS) turun 21,5 persen, lalu PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) turun 21,38 persen, PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) turun 20,29 persen, PT Multifiling Mitra Indonesia Tbk (MFMI) turun 11,39 persen, dan PT Indo Kordsa Tbk (BRAM) yang turun 10,11 persen.

IHSG

Implementasi auto rejection simetris ikut berimbas pada pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan perdagangan hari ini, posisi indeks berada pada level 5.275,97 atau turun 20,74 poin (0,39 persen).

Sepanjang hari, transaksi saham terjadi dengan volume 5,82 miliar lot dengan nilai Rp4,5 triliun. Catatan ini pun masih lebih baik dari perdagangan awal tahun 2016 dengan catatan volume 5,26 miliar lot bernilai Rp3,79 triliun. Saat itu pun, indeks jatuh cukup dalam 1,46 persen ke level 4.525,92.

Grafik: Pergerakan Intraday IHSG 3 Januari 2016

Sumber: Bareksa.com



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN CHAT
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER